JEJAK PENDUKUNG BUDAYA OBSIDIAN DI SEKITAR DANAU BANDUNG
Analisis Pendahuluan
Nurul Laili
Sari
Danau Bandung purba berada di sekitar Kota Bandung sekarang. Indikasi adanya aktivitas manusia banyak diperoleh di daerah-dlaerah yang diyakini sebagai tepian danau. Temuan artefak antara lain berupa beliung, alat obsidian, gerabah, keramik asing, batu asah, dan beberapa logam. Fokus tulisan ini adalah sebaran obsidian dan faktor yang melatarbelakanginya. Aktivitas manusia pendukung obsidian sangat dipengaruhi oleh muka pantai Danau Bandung. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya air dalam kehidupan manusia.
Abstract
Artifacts as a indication of human activities had been discovered around the Bandung Basin area. The artifacts were obtained around lake, consist of obsidian tools, stone adzes (polished stone tools), fragment of earthenware as well as axes cast forms bronze or iron. This paper focused in the distribution of obsidian and its background. The human activity that supported obsidians culture are heavily influences by water level of the lake. Considering it, obsidians are interesting to be analysis as a partial study about water and its roles in the human living in Bandung basin area.
Kata Kunci: obsidian, Danau Bandung, serpih, alat serpih, serpih beretus
Latar Belakang
Tinggalan obsidian merupakan temuan yang paling banyak diperoleh di sekitar Danau Bandung (Koesoemadinata, 2001). Oleh karena itu, artefak obisidian paling banyak meyita perhatian beberapa peneliti. Penemuan artefak dan penelitian di sekitar danau Bandung, pertama-tama oleh A.C de Jong (1930), yang kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian oleh von Koeningswald dan dipublikasikan tahun 1935. Penelitian Koeningswald memperoleh artefak alat obsidian, beliung dari bahan kwarsit dan kalsedon, pisau penyerut, dan anak panah (Koeningswald, 1935: 393 -- 419). Masih dalam tahun penelitian yang sama, Koeningswald juga telah berhasil memetakan sebaran situs obsidian yang keseluruhannya berada pada ketinggian 725 meter di atas permukaan air laut. Pemerhati budaya danau Bandung purba yang lain adalah J. Krebs (1932-1933), W Mohler (1942-1945), dan Rothpletz (Heekeren, 1972).
Rothpletz (1951) mencoba untuk menguak budaya danau Bandung purba dengan berkonsentrasi pada daerah timur laut Bandung yang disebut dengan Blok Pulasari. Artefak yang diperoleh beragam bahan dan teknologi, antara lain berupa beliung, obsidian, keramik, dan cetakan untuk pengecoran perunggu dan besi. Secara umum, artefak yang diperoleh berupa obsidian, beliung, batu asah, gerabah, keramik asing, dan beberapa logam.
Beberapa tahun belakangan (70-an), penelitian di daerah sekitar Danau Bandung telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pada tahun 1978, tim penelitian Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P4N) sekarang Pusat Penelitian Arkeologi, Jakarta melakukan survei di daerah Sindangkerta, Kabupaten Bandung. Lokasi yang diteliti adalah Pasir (bukit) Tampian, Pasir Suje, Pasir Monggor, Pasir Kawung, Pasir Suramenggala, Pasir Asep Roke, dan Pasir Kadut. Artefak yang diperoleh berupa alat serpih, batu berupa serut, pecahan keramik asing, pahat batu, dan beliung persegi (Anggraeni, et al, 1986).
Selanjutnya, pada tahun 1992, tim dari Bidang Arkeometri, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di wilayah sekitar Saguling, Desa Baranangsiang, Cipongkor, Kabupaten Bandung. Situs yang diteliti adalah Pasir Asep Roke, Pasir Citiis dan Jajawei, Pasir Kadut, Pasir Kawung, Pasir Lengo, Pasir Monggor, Pasir Suje, Pasir Suramenggala, dan Pasir Tampian. Temuan yang diperoleh adalah tembikar, terak besi, cangkang kerang, serut, dan beliung persegi (Tim Peneliti, 1992).
Pada tahun 2001 tim penelitian dari Balai Arkeologi Bandung melakukan penelitian yang berupa survei di daerah Cililin dan Cipongkor. Hasil penelitian adalah sebagai berikut makam Rangga Malela, makam K.H Syafei, makam Syeh Abdul Manaf, makam Sangga Wadana, beliung persegi, mata tombak, dan fosil fragmen tulang (Boedi, 2001).
Beberapa telaah mengenai temuan di Danau Bandung telah dilakukan oleh para ahli terdahulu. Telaah temuan khususnya obsidian, para ahli saling berbeda pendapat. Ketiga ahli van Stein Callenfels, von Koeningswald dan van der Hoop, dalam tulisan yang berbeda, berkesimpulan sama, yaitu menggolongkan alat obsidian yang disebut sebagai alat mikrolit berasal dari masa bercocok tanam. Hal tersebut didasarkan dari temuan sertanya, yaitu pecahan gerabah, fragmen beliung persegi, dan cetakan-cetakan logam (Callenfels, 1934, Koeningswald, 1935, Hoop, 1940, vide Soejono, 1984).
Hal lain dikemukaan oleh Geldern (Soejono, 1984), alat obsidian Bandung digolongkan dari tradisi yang lebih tua. Pendapat senada dikeluarkan oleh Bandi dan Rothpletz, yaitu alat obsidian Bandung merupakan alat masa berburu dan mengumpulkan makanan. Alasan yang mengemuka adalah unsur bercocok tanam berasal dari masa-masa kemudian dan temuan obsidian tumpang tindih dengan tradisi yang menghasilkan beliung persegi. Soejono dengan menggunakan anologi temuan di Jambi dan Leles menduga alat obsidian merupakan alat yang berkembang secara lokal pada masa bercocok tanam (Soejono, 1984).
Permasalahan, Tujuan, dan Sasaran
Penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, menunjukkan bahwa secara kuantitas merupakan perkakas terbanyak dipergunakan oleh manusia pendukung danau Bandung. Sebagai artefak yang menonjol, tentunya artefak obsidian mempunyai wilayah sebaran yang cukup luas.
Keberadaan situs obsidian menurut penelitian Koenigswald dan Rothpletz adalah di atas 725 meter dpal. Penelitian geologi menunjukkan bahwasurutnya muka air danau tidaklah sekaligus. Demikian juga dengan sedimentasi yang terjadi di Danau Bandung, tidak sama. Berdasarkan hal tersebut maka terdapat permasalahan yang dapat dirumuskan, yaitu:
1. Apakah aktivitas pendukung obsidian Danau Bandung hanya dilakukan pada lokasi di atas 725 m dpal?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemilihan lokasi oleh manusia pendukung obsidian?
Penelitian ini akan dapat memberi petunjuk tentang perilaku manusia dalam memanfaatkan alam lingkungan bagi kegiatannya. Adapun sasaran yang akan dicapai adalah memberikan gambaran mengenai penghunian oleh manusia masa lampau dalam kaitannya dengan eksploitasi bumi.
Kerangka Pikir dan Metode
Permukiman menetap mulai muncul ketika masa tradisi bercocok tanam berkembang. Masyarakat pada masa itu untuk memenuhi kebutuhannya, sudah tidak lagi hidup secara mengembara tetapi bermukim menetap di suatu tempat. Mereka bermukim secara mengelompok di tempat-tempat yang keadaannya alamnya dapat memenuhi kehidupan, misalnya di gua-gua yang dekat dengan sumber makanan atau tempat-tempat terbuka di pinggir sungai. Kehidupan manusia tidak terlepas dari lingkungan sekitar. Manusia akan berusaha memilih lingkungan yang sesuai untuk aktivitasnya dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal (Herkovits, 1952: 3 -- 8).
Perilaku manusia dalam menentukan lokasi tinggalnya tidak akan berperilaku acak tetapi akan mengikuti zona-zona tertentu (Parson, 1972; Hodder, 1976). Demikian halnya dalam pembagian ruang untuk hunian pun tidak acak dan teratur. Keteraturan itu juga mencerminkan pola pembagian ruang, sehingga hubungan antara manusia dan ruang dimana mereka berinteraksi, dapat terungkapkan (Watson et. al, 1971; Fagan, 1981; Eriawati, 1997).
Beberapa telaah mengenai temuan di Danau Bandung telah dilakukan oleh para ahli terdahulu. Telaah temuan khususnya obsidian, para ahli saling berbeda pendapat. Ketiga ahli van Stein Callenfels, von Koenigswald dan van der Hoop, dalam tulisan yang berbeda, berkesimpulan sama, yaitu menggolongkan alat obsidian yang disebut sebagai alat mikrolit berasal dari masa bercocok tanam. Hal tersebut didasarkan dari temuan sertanya, yaitu pecahan gerabah, fragmen beliung persegi, dan cetakan-cetakan logam (Callenfels, 1934; Koenigswald, 1935; Hoop, 1940, vide Soejono, 1984).
Hal lain dikemukaan oleh Geldern (Soejono, 1984), alat obsidian Bandung digolongkan dari tradisi yang lebih tua. Pendapat senada dikeluarkan oleh Bandi dan Rothpletz, yaitu alat obsidian Bandung merupakan alat masa berburu dan mengumpulkan makanan. Alasan yang mengemuka adalah unsur bercocok tanam berasal dari masa-masa kemudian, dan temuan obsidian tumpang tindih dengan tradisi yang menghasilkan beliung persegi. Soejono dengan menggunakan anologi temuan di Jambi dan Leles menduga alat obsidian merupakan alat yang berkembang secara lokal pada masa bercocok tanam (Soejono, 1984).
Penelitian ini menerapkan tipe penelitian eksploratif dan deskriptif. Metode eksploratif dilakukan berlandaskan pada seluruh data guna mempertajam permasalahan. Setelah permasalahan muncul secara jelas diterapkan metode deskriptif. Pelaksanaan penelitian tidak hanya terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data (Gibbon, 1984: 80; Sharer dan Ashmore, 1979: 486).
Pola penalaran yang digunakan adalah pola induktif. Dengan demikian analisis melalui pendeskripsian yang sistematis dan terklasifikasinya data yang diperoleh maka jawaban permasalahan akan diperoleh dalam bentuk kesimpulan atau generalisasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui survei. Penentuan lokasi ditentukan berdasarkan studi pustaka dan peta topografi.
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan maka akan dilakukan pencuplikan sampel, mengingat luasnya wilayah. Untuk itu akan dicuplik lokasi situs yang berada pada ketinggian di atas 725 m dpal dan yang di bawah 725 m dpal. Pencuplikan tersebut juga mempertimbangkan wilayah yang dibagi sesuai dengan arah mata angin. Hal ini dilakukan untuk terwakilkan semua lokasi, yaitu wilayah utara, timur, selatan, dan barat. Untuk wilayah barat,dalam tulisan ini mencuplik data dari hasil penelitian Gua Pawon (Yondri, 2005).
Kamis, 11 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar